pemeriksaankhusus obstetrik dan pemeriksaan penunjang pada ibu hamil, merumuskan diagnosis dan masalah potensial, serta kebutuhan akan tindakan segera yang mungkin terjadi pada saat kehamilan (gizi kurang, oligo/polihidramnion, kehamilan mola, kehamilan ganda dan IUGR, preeklampsia dan eklampsia, perdarahan pervaginam, kelainan
22 Konsep Pemeriksaan Laboratorium Pada Ibu Hamil 2.2.1 Definisi Pemeriksaan laboratorium sadalah suatu pemeriksaan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang umum dan dikerjakan pada pemeriksaan penunjang untuk mendukung suatu diagnosa. (Baety N.2012). Pemeriksaan laboratorium selama kehamilan merupakan salah satu komponen penting dalam
Jenispemeriksaan yang berbeda dari pemeriksaan trimester 1 yakni pemeriksaan gigi. Ya, jadi ibu hamil di usia trimester 2 rentan mengalami gangguan pada mulutnya, baik gusi ataupun giggi. Pemeriksaan TORCH tergolong sebagai pemeriksaan penunjang. TORCH ini merupakan gabungan 4 jenis infeksi yakni toxoplasma gondii, rubella, cytomegalovirus
Vay Tiền Trả Góp 24 Tháng. Jakarta - Sifilis selama kehamilan memang merupakan kondisi yang serius lho Bunda. Ini merupakan infeksi menular dari kontak seksual dan dapat membuat bayi terkena infeksi yang dikenal dengan sifilis kongenital. Yuk ketahui sifilis kongenitasl pada ibu hamil, baik itu penyebab, cara mengatasinya hingga bahayanya bagi janin. Melansir laman AmericanPregnancy, sifilis merupakan infeksi menular yang disebabkan bakteri Treponema pallidum, terutama ditularkan dari kontak seksual. ADVERTISEMENT SCROLL TO RESUME CONTENT Sifilis juga meningkatkan kemungkinan kehamilan lahir mati. Jika janin bertahan hingga lahir, risikonya meliputi kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, infeksi sifilis kongenital, atau kematian neonatal. Untuk sifilis kongenital, ini lebih mungkin memengaruhi bayi jika ibu hamil terkena sifilis selama kehamilan. Tapi Bunda juga bisa menularkannya ke janin jika terkena infeksi sebelum hamil. Kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi seumur hidup bagi bayi. Sifilis kongenital juga dapat memengaruhi anak secara berbeda berdasarkan berapa lama ibu hamil menderita sifilis dan kapan menerima pengobatan untuk itu. Jika ibu hamil menderita sifilis atau menduga mungkin menderita sifilis, ada tindakan pencegahan tertentu yang dapat dilakukan selama kehamilan untuk membatasi kemungkinan menularkannya ke janin yang sedang berkembang. Penyebab penularan sifilis kongenital pada ibu hamil Jika seorang ibu hamil yang terinfeksi didiagnosis dan diobati dengan benar sebelum bulan keempat kehamilan, janin tidak akan tertular infeksi. Pengobatan setelah keempat yang biasanya akan menyembuhkan ibu dan janin. Namun, kemungkinan janin tertular infeksi juga tergantung pada stadium sifilis pada ibu hamil. Semakin baru ibu hamil tertular sifilis, semakin tinggi risiko menularkan infeksi itu ke janin. Jika ibu hamil menderita sifilis dini yang tidak diobati, infeksi hampir selalu menular ke janin. Dan penularan dari ibu ke anak jauh lebih jarang terjadi jika ibu hamil berada pada tahap laten atau akhir tersier penyakit. Pencegahan sifilis kongenital pada ibu hamil Alagia mengatakan sebenarnya penyakit ini dapat dicegah. Alhasil bayi yang akan tertular penyakit yang berpotensi mematikan ini bisa sangat sedikit. Ini jika semua wanita menerima perawatan prenatal yang tepat. Damian P. Alagia III, MD, direktur medis senior kesehatan wanita untuk Quest Diagnostics yang berbasis di wilayah Washington, DC menekankan kuncinya adalah setiap ibu hamil menjalani tes sifilis dan penyakit menular seksual lainnya dan menerima pengobatan jika diperlukan. "Jika Anda dites negatif pada awal kehamilan untuk sifilis atau PMS lainnya dan kemudian mulai terlibat dalam perilaku berisiko tinggi atau memiliki pasangan baru, Anda harus diuji ulang pada trimester ketiga untuk melindungi diri Anda dan bayinya," kata Alagia. Karena itu, tes sifilis ini sangat penting karena ibu hamil bisa saja membawa 'penyakit' ini tanpa mengetahuinya. Luka awal tidak sakit, namun bisa sulit dilihat atau benar-benar tersembunyi di dalam tubuh. Selain itu mudah disalahartikan sebagai hal lain, seperti rambut yang tumbuh ke dalam, jerawat, atau benjolan yang tidak berbahaya. Gejala sifilis kongenital pada ibu hamil Tanda-tanda awal sifilis kongenital ini cenderung terjadi pada usia 3 sampai 14 minggu kehamilan. Tapi gejala ini juga bisa muncul paling lambat 5 tahun. Ini termasuk Peradangan atau pengerasan tali pusat bayi Demam Masalah kulit Ruam Berat lahir rendah Kadar kolesterol tinggi saat lahir Meningitis Anemia Jumlah monosit sejenis sel darah putih yang lebih tinggi dalam darah bayi Hati atau limpa yang lebih besar Penyakit kuning Kejang Pengelupasan kulit yang memengaruhi telapak tangan dan kaki bayi Masalah mental Periostitis radang di sekitar tulang yang menyebabkan tungkai dan persendian lunak Pilek Rambut rontok Peradangan di mata bayi Radang paru-paru Cara mengatasi sifilis kongenital pada ibu hamil Sifilis hanya menyerang bayi dari ibu hamil yang tidak didiagnosis dan diobati secara tepat dengan antibiotik. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit CDC, penisilin sangat efektif untuk melindungi ibu dan anak, tetapi tidak mendapatkan diagnosis atau tidak mengonsumsi penisilin secara signifikan meningkatkan risiko kesehatan bagi keduanya. Rejimen penisilin ini juga yang sesuai untuk stadium sifilis dan dimulai 30 hari atau lebih sebelum melahirkan. Ibu hamil yang terdiagnosis sifilis harus segera diobati. Pasangan seksnya juga harus menerima perawatan untuk mencegah ibu terinfeksi ulang dan untuk meningkatkan kesehatan pasangannya. Bayi yang terpapar sifilis selama kehamilan harus dievaluasi secara menyeluruh saat lahir untuk menilai bukti sifilis kongenital dan kebutuhan pengobatan. Bayi-bayi ini juga harus dipantau dengan ketat setelah dilahirkan, terlepas dari evaluasi atau pengobatan awal, karena bayi dengan sifilis kongenital mungkin tidak memiliki gejala awal apa pun saat lahir tetapi kemudian mengembangkan gejala jika tidak ditangani dengan tepat. Bahaya sifilis kongenital pada janin Bayi dengan sifilis kongenital yang tidak ditangani dengan tepat dalam 3 bulan pertama kehidupan lebih mungkin mengalami komplikasi seumur hidup seperti ketulian, kebutaan, dan cacat intelektual. Jennifer Payne, MD seorang dokter bidang Kedokteran keluarga, kedokteran olahraga dan olahraga, dan kesehatan wanita, mengatakan, ibu hamil yang menderita sifilis memang dapat menularkan penyakit tersebut kepada janinnya. "Bakteri penyebab penyakit dapat berpindah dari Anda ke bayi Anda melalui plasenta. Anak Anda kemudian dikatakan menderita sifilis kongenital," kata Payne dilansir Everydayhealth. Alagia juga mengatakan bahwa sekitar 40 persen hingga 50 persen bayi yang terinfeksi sifilis akan lahir mati. Bayi baru lahir yang terinfeksi juga berisiko tinggi meninggal. "Janin yang terinfeksi sifilis sering meninggal dalam kandungan," kara Alagia. Seorang bayi dengan sifilis yang bertahan hidup tetapi tidak diobati atau tidak diobati secara memadai dapat berakhir dengan seumur hidupnya berhadapan dengan masalah besar. "Penyakit ini dapat menyerang secara agresif hampir setiap bagian tubuh pada janin dan bayi seperti yang terjadi pada orang dewasa," jelasnya. Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis! Simak juga yuk video tentang kehamilan di bawah ini pri/pri
Selain pada wanita, pemeriksaan hCG juga bisa dilakukan pada pria untuk membantu mendeteksi kanker testis. Untuk mendiagnosa kondisi kanker, tes alpha-fetoprotein mungkin diperlukan. Bagaimana prosedur pemeriksaan hCG? Tes human chorionic gonadotropin dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu memeriksa sampel darah atau dengan sampel urine. Tes darah hCG umumnya lebih akurat daripada tes urine. Namun, tes urine lebih umum dilakukan karena prosedurnya yang lebih mudah dan Anda bisa melakukan tes kehamilan sendiri di rumah dengan cara tersebut. Pengambilan sampel darah Pemeriksaan hCG dalam darah dilakukan dengan mengambil sampel darah dari pembuluh darah vena di lengan dengan langkah-langkah berikut. Petugas kesehatan membersihkan area kecil di lengan atau siku bagian dalam dengan lap antiseptik atau kapas alkohol. Untuk memudahkan penyuntikkan, dokter akan mengikatkan sabuk elastis di sekitar lengan atas sampai pembuluh darah Anda membesar. Pembuluh darah kemudian ditusuk dengan jarum yang terhubung dengan wadah berupa tabung kecil. Setelah darah diambil, dokter akan melepaskan jarum lalu menutup bekas tusukan dengan perban untuk mencegah pendarahan. Anda perlu menekuk lengan beberapa menit untuk mempercepat penutupan luka di kulit. Pengambilan sampel urine Pemeriksaan hCG dengan sampel urine perlu memperhatikan hal-hal berikut. Sebaiknya sampel urine yang digunakan berasal dari air kencing pertama di pagi hari saat jadwal pemeriksaan. Selain urine pagi hari, urine dari 4 jam setelah buang air kecil terakhir juga bisa digunakan. Dianjurkan menggunakan sampel urine di waktu-waktu tersebut karena memiliki kadar hCG yang tinggi sehingga hasilnya akan lebih akurat. Untuk mengambil sampel urine, Anda akan diminta untuk melakukannya sendiri di rumah atau di toilet di rumah sakit. Berikut langkah-langkah yang perlu Anda lakukan. Pastikan penampung sampel urine yang Anda gunakan bersih dan kering. Letakkan penampung tersebut di dekat kemaluan tepat mengenai aliran air kencing. Jangan biarkan ujung penampung menyentuh area kelamin. Jagalah sampel urine dari percikan air dan zat asing lainnya seperti tisu, rambut kemaluan, kotoran, atau darah. Tutup penampung dengan hati-hati dan bawalah ke laboratorium. Usahakan membawa sampel urine tersebut dalam waktu kurang dari 1 jam. Bila terlambat, simpan sampel di kulkas atau ulangi proses pengambilan sampel pada hari berikutnya. Setelah mengambil sampel darah ataupun sampel urine, Anda akan diminta untuk menunggu hasilnya. Biasanya, hasil tes dapat diperoleh pada hari yang sama. Selanjutnya, Anda perlu berkonsultasi lagi dengan dokter untuk membicarakan hasil tes yang sudah Anda lakukan. Bagaimana cara membaca hasil pemeriksaan hCG? Hasil pemeriksaan dengan metode kualitatif atau beta hCG cukup sederhana. Hanya berupa nilai positif atau negatif. Hasil positif menandakan bahwa terdapat hormon hCG dalam urine sedang hamil. Hasil negatif menandakan bahwa tidak terdapat hormon hCG dalam urine tidak hamil. Bila hasilnya negatif tetapi dokter tetap mencurigai Anda hamil, biasanya akan dilakukan pemeriksaan human chorionic gonadotropin dengan sampel darah. Pilihan lainnya, Anda mungkin diminta mengulang tes seminggu kemudian. Untuk mendeteksi kehamilan, biasanya metode kualitatif sudah cukup. Namun, dalam kondisi tertentu, mungkin diperlukan pemeriksaan tambahan untuk mengetahui kadarnya dengan metode kuantitatif. Pemeriksaan metode kuantitatif akan menunjukkan informasi yang lebih lengkap, yaitu sebagai berikut. Hasil normal Skor normal pada hasil tes biasanya bervariasi dari satu laboratorium dengan laboratorium lainnya tergantung skala pengukuran yang digunakan. Oleh karena itu, sebaiknya Anda tidak menebak-nebak dan menunggu hasil penjelasan dokter. Selain itu, dokter juga perlu memeriksa hasil tes berdasarkan kondisi kesehatan Anda dan faktor lainnya. Pada pria normal dan wanita yang sedang tidak hamil, kadar hormon hCG dalam darah kurang dari 5 IU international unit per liter. Sementara pada kehamilan, hasil pemeriksaan hCG biasanya akan meningkat seiring dengan usia kehamilan. Melansir Pregnancy Birth dan Baby, berikut peningkatan kadar human chorionic gonadotropin dalam darah dari waktu ke waktu. 3 minggu setelah hari pertama haid terakhir HPHT 5-70 IU/liter. 4 minggu setelah HPHT 50-750 IU/liter. 5 minggu setelah HPHT 200-7100 IU/liter. 6 minggu setelah HPHT 160 – 32,000 IU/liter. 7 minggu setelah HPHT 3,700 – 160,000 IU/liter. 8 minggu setelah HPHT 32,000 – 150,000 IU/liter. 9 minggu setelah HPHT 64,000 – 150,000 IU/liter. 10 minggu setelah HPHT 47,000 – 190,000 IU/liter. 12 minggu setelah HPHT 28,000 – 210,000 IU/liter. 14 minggu setelah HPHT 14,000 – 63,000 IU/liter. 15 minggu setelah HPHT 12,000 – 71,000 IU/liter. 16 minggu setelah HPHT 9,000 – 56,000 IU/liter. 16 sampai 29 minggu setelah HPHT trimester kedua 1,400 – 53,000 IU/liter. 29 sampai 41 minggu setelah HPHT trimester ketiga 940 – 60,000 IU/liter. Kadar hCG sangat tinggi Kadar hCG yang sangat tinggi saat hamil mungkin menandakan Anda mengalami kondisi seperti kehamilan kembar seperti kembar dua atau tiga, kehamilan molar kehamilan anggur, janin mengalami sindrom Down, atau kehamilan Anda sudah berusia lebih lama dari perkiraan. Sementara itu, bila ditemukan kadar hCG yang tinggi pada pria atau wanita yang tidak hamil, kondisi ini bisa berarti berikut. Terdapat tumor yang berkembang dari sperma atau sel telur, seperti tumor testis atau tumor ovarium. Kemungkinan adanya kanker, seperti kanker perut, pankreas, usus besar, hati, atau paru-paru. Kadar hCG rendah Hasil pemeriksaan hCG yang menunjukkan kadar yang rendah bisa berarti Anda mengalami kondisi kehamilan ektopik, kematian bayi dalam kandungan stillbirth, atau usia kehamilan Anda ternyata lebih muda dari perkiraan. Bila kadar hormon tersebut berkurang secara tidak normal saat hamil kemungkinan besar menandakan Anda mengalami keguguran.
Halodoc, Jakarta – Eklampsia pada ibu hamil merupakan kondisi gawat darurat dan harus segera ditangani. Jika tidak, gangguan yang merupakan lanjutan dari preeklamsia ini bisa memicu dampak berbahaya bagi ibu maupun janin yang tengah dikandung. Gejala utama eklampsia adalah kejang-kejang yang diakibatkan oleh peningkatan tekanan darah alias hipertensi. Kondisi ini sebenarnya jarang terjadi, namun ibu hamil tetap memiliki risiko mengalaminya terutama jika memiliki riwayat hipertensi atau preeklampsia selama masa kehamilan. Waspadai jika ibu hamil mengalami kejang-kejang hingga penurunan kesadaran atau tatapan mata yang kosong. Jika tidak segera ditangani, eklampsia pada ibu hamil bisa menyebabkan komplikasi yang bersifat bahaya, bahkan berujung pada kematian. Lantas, bagaimanakah cara mendiagnosis kondisi eklampsia pada ibu hamil? Baca juga Mitos atau Fakta, Preeklamsia dalam Kehamilan bisa Terulang Pemeriksaan untuk Mendiagnosis Eklampsia pada Ibu Hamil Eklampsia maupun preeklamsia adalah kondisi yang sebaiknya dihindari wanita hamil. Cara terbaik untuk menghindari kedua kondisi ini adalah dengan rutin melakukan pemeriksaan kandungan, sehingga risiko preeklamsia bisa terdeteksi pada masa-masa awal kehamilan. Dengan begitu, kemungkinan preeklampsia berkembang menjadi kejang atau eklampsia pun bisa diminimalisir. Sebelumnya perlu diketahui, preeklampsia adalah gangguan kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi alias hipertensi dan tanda-tanda kerusakan organ lain. Kondisi ini sering menyebabkan gangguan pada organ seperti kerusakan ginjal yang ditunjukkan oleh tingginya kadar protein pada urine. Kondisi ini rentan menyerang pada trimester ketiga atau masa-masa akhir kehamilan, dan bisa memicu kejang alias eklampsia saat semakin mendekati proses persalinan. Eklampsia yang tidak ditangani segera bisa memicu terjadinya komplikasi, baik bagi ibu hamil maupun janin yang dikandung. Kondisi ini bisa menyebabkan ibu hamil dan bayi mengalami kerusakan saraf otak permanen, kerusakan organ ginjal dan hati, hingga yang paling parah bisa menyebabkan kematian akibat kejang yang terjadi. Saat ibu hamil mengalami kejang, dokter akan melakukan beberapa jenis pemeriksaan untuk memastikan kondisi tersebut merupakan gejala eklampsia atau bukan. Pemeriksaan yang bisa dilakukan adalah Tes Darah Preeklampsia dan eklampsia sangat berkaitan dengan tekanan darah. Maka dari itu, pemeriksaan darah menjadi salah satu tes yang bisa dilakukan untuk mendiagnosis kondisi ini. Pemeriksaan ini mencakup perhitungan sel darah lengkap yang bisa membantu menunjukkan wanita hamil mengalami preeklamsia atau gangguan lain. Penghitungan sel darah lengkap juga dapat digunakan untuk melihat kadar bilirubin dan serum haptoglobin dalam darah. Selain itu, akan diamati juga jumlah sel darah merah per volume darah. Sel darah merah bertugas mengangkut oksigen agar asupan oksigen bagi ibu hamil dan janin yang dikandung tetap terjaga serta terpenuhi. Baca juga Ibu Hamil Alami Kejang, Apa Sebabnya? Tes Kreatinin Kerusakan ginjal bisa menjadi salah satu tanda wanita hamil mengalami eklampsia. Untuk memastikan kerusakan terjadi karena gangguan ini, perlu dilakukan tes fungsi ginjal, salah satunya tes serum kreatinin. Zat ini merupakan hasil buangan dari otot yang dialirkan melalui darah serta dikeluarkan melalui ginjal. Namun, saat ginjal mengalami kerusakan karena eklampsia, proses ini jadi terganggu kemudian menyebabkan kadar kreatinin bertambah dan tak dapat disaring. Tes Urine Kemungkinan preeklampsia dan eklampsia juga bisa dilihat melalui tes urine. Pada pemeriksaan ini, akan dilihat ada atau tidak keberadaan protein dalam urine yang merupakan salah satu tanda penting terjadinya preeklamsia dan eklamsia pada ibu hamil. Baca juga 5 Cara Cegah Preeklampsia Usai Persalinan Masih penasaran tentang eklampsia dan cara mendiagnosisnya? Tanya dokter di aplikasi Halodoc saja. Dokter bisa dengan mudah dihubungi melalui Video/Voice Call dan Chat. Dapatkan informasi seputar kesehatan dan tips hidup sehat dari dokter terpercaya. Yuk, download sekarang di App Store dan Google Play! Referensi Medicinet. Diakses pada 2019. Preeclampsia and eclampsia facts. Healthline. Diakses pada 2019. Eclampsia.
pemeriksaan penunjang pada ibu hamil